As poor-poor people is
people who lack courtesy and manners.
Characteristic of a civilized person he is very diligent and love tolearn, he is not ashamed to learn than those located lower her

Rabu, 10 Agustus 2011

Jalaluddin Rumi Sufi terkenal

-Maulana Jalaluddin Rumi Muhammad bin Hasin al Khattabi al-Bakri (Jalaluddin Rumi) atau sering pula disebut dengan nama Rumi adalah seorang penyair sufi yang lahir di Balkh (sekarang Afganistan) pada tanggal 6 Rabiul Awwal tahun 604 Hijriah, atau tanggal 30 September 1207 Masehi. Ayahnya masih keturunan Abu Bakar, bernama Bahauddin Walad. Sedang ibunya berasal dari keluarga kerajaan Khwarazm. Ayah Rumi seorang cendekia yang saleh, mistikus yang berpandangan ke depan, seorang guru yang terkenal di Balkh. Saat Rumi berusia 3 tahun karena adanya bentrok di kerajaan maka keluarganya meninggalkan Balkh menuju Khorasan. Dari sana Rumi dibawa pindah ke Nishapur, tempat kelahiran penyair dan alhi matematika Omar Khayyam. Di kota ini Rumi bertemu dengan Attar yang meramalkan si bocah pengungsi ini kelak akan masyhur yang akan menyalakan api gairah Ketuhanan.
Kumpulan puisi Rumi yang terkenal bernama al-Matsnawi al-Maknawi konon adalah sebuah revolusi terhadap Ilmu Kalam yang kehilangan semangat dan kekuatannya. Isinya juga mengeritik langkah dan arahan filsafat yang cenderung melampaui batas, mengebiri perasaan dan mengkultuskan rasio.
Diakui, bahwa puisi Rumi memiliki ciri khas tersendiri dibandingkan para sufi penyair lainnya. Melalui puisi-puisinya Rumi menyampaikan bahwa pemahaman atas dunia hanya mungkin didapat lewat cinta, bukan semata-mata lewat kerja fisik. Dalam puisinya Rumi juga menyampaikan bahwa Tuhan, sebagai satu-satunya tujuan, tidak ada yang menyamai.
Ciri khas lain yang membedakan puisi Rumi dengan karya sufi penyair lain adalah seringnya ia memulai puisinya dengan menggunakan kisah-kisah. Tapi hal ini bukan dimaksud ia ingin menulis puisi naratif. Kisah-kisah ini digunakan sebagai alat pernyataan pikiran dan ide.
Banyak dijumpai berbagai kisah dalam satu puisi Rumi yang tampaknya berlainan namun nyatanya memiliki kesejajaran makna simbolik. Beberapa tokoh sejarah yang ia tampilkan bukan dalam maksud kesejarahan, namun ia menampilkannya sebagai imaji-imaji simbolik. Tokoh-tokoh semisal Yusuf, Musa, Yakub, Isa dan lain-lain ia tampilkan sebagai lambang dari keindahan jiwa yang mencapai ma'rifat. Dan memang tokoh-tokoh tersebut terkenal sebagai pribadi yang diliputi oleh cinta Ilahi.
Salah satu karyanya yang paling terkenal adalah :
jangan tanya apa agamaku. aku bukan yahudi. bukan zoroaster. bukan pula islam. karena aku tahu, begitu suatu nama kusebut, kau akan memberikan arti yang lain daripada makna yang hidup di hatiku.

Al-Hallaj Sufi terkenal

-Husain ibn Mansur al-Hallaj atau biasa disebut dengan Al-Hallaj adalah salah seorang ulama sufi yang dilahirkan di kota Thur yang bercorak Arab di kawasan Baidhah, Iran Tenggara, pada tanggal 26 Maret 866M. Ia merupakan seorang keturuna Persia. Kakeknya adalah seorang penganut Zoroaster dan ayahnya memeluk islam. Al-Hallaj merupakan syekh sufi abad ke-9 dan ke-10 yang paling terkenal. Ia terkenal karena berkata: "Akulah Kebenaran", ucapan yang membuatnya dieksekusi secara brutal.
Bagi sebagian ulama islam, kematian ini dijustifikasi dengan alasan bid'ah, sebab Islam tidak menerima pandangan bahwa seorang manusia bisa bersatu dengan Allah dan karena Kebenaran (Al-Haqq) adalah salah satu nama Allah, maka ini berarti bahwa al-Hallaj menyatakan ketuhanannya sendiri. Kaum sufi sejaman dengan al-Hallaj juga terkejut oleh pernyataannya, karena mereka yakin bahwa seorang sufi semestinya tidak boleh mengungkapkan segenap pengalaman batiniahnya kepada orang lain. Mereka berpandangan bahwa al-Hallaj tidak mampu menyembunyikan berbagai misteri atau rahasia Ilahi, dan eksekusi atas dirinya adalah akibat dari kemurkaan Allah lantaran ia telah mengungkapkan segenap kerahasiaan tersebut
Meskipun al-Hallaj tidak punya banyak pendukung di kalangan kaum sufi sezamannya, hampir semua syekh sufi sesungguhnya memuji dirinya dan berbagai pelajaran yang diajarkannya. Aththar, dalam karyanya Tadzkirah al-Awliya, menyuguhkan kepada kita banyak legenda seputar al-Hallaj. Dalam komentarnya, ia menyatakan, "Saya heran bahwa kita bisa menerima semak belukar terbakar (yakni, mengacu pada percakapan Allah dengan nabi Musa as) yang menyatakan Aku adalah Allah, serta meyakini bahwa kata-kata itu adalah kata-kata Allah, tapi kita tidak bisa menerima ucapan al-Hallaj, 'Akulah Kebenaran', padahal itu kata-kata Allah sendiri!". Di dalam syair epiknya, Matsnawi, Rumi mengatakan, "Kata-kata 'Akulah Kebenaran' adalah pancaran cahaya di bibir Manshur, sementara Akulah Tuhan yang berasal dari Fir'aun adalah kezaliman."
Akulah Kebenaran!' dan hari-hari terakhir
Tahun 913M adalah titik balik bagi karya spiritualnya. Pada 912M ia pergi menunaikan ibadah haji untuk ketiga kalinya dan terakhir kali, yang berlangsung selama dua tahun, dan berakhir dengan diraihnya kesadaran tentang Kebenaran. Di akhir 913M inilah ia merasa bahwa hijab-hijab ilusi telah terangkat dan tersingkap, yang menyebabkan dirinya bertatap muka dengan sang Kebenaran (Al-Haqq). Di saat inilah ia mengucapkan, "Akulah Kebenaran" (Ana Al-Haqq) dalam keadaan ekstase. Perjumpaan ini membangkitkan dalam dirinya keinginan dan hasrat untuk menyaksikan cinta Allah pada menusia dengan menjadi "hewan kurban". Ia rela dihukum bukan hanya demi dosa-dosa yang dilakukan setiap muslim, melainkan juga demi dosa-dosa segenap manusia.
Di jalan-jalan kota Baghdad, dipasar, dan di masjid-masjid, seruan aneh pun terdengar: "Wahai kaum muslimin, bantulah aku! Selamatkan aku dari Allah! Wahai manusia, Allah telah menghalalkanmu untuk menumpahkan darahku, bunuhlah aku, kalian semua bakal memperoleh pahala, dan aku akan datang dengan suka rela. Aku ingin si terkutuk ini (menunjuk pada dirinya sendiri) dibunuh." Kemudian, al-Hallaj berpaling pada Allah seraya berseru, "Ampunilah mereka, tapi hukumlah aku atas dosa-dosa mereka."
Tetapi, kata-kata ini justru mengilhami orang-orang untuk menuntut adanya perbaikan dalam kehidupan dan masyarakat mereka. Lingkungan sosial dan politik waktu itu menimbulkan banyak ketidakpuasan di kalangan masyarakat. Orang banyak menuntut agar khalifah menegakkan kewajiban yang diembannya. Sementara itu, yang lain menuntut adanya pembaruan dan perubahan dalam masyarakat sendiri.
Tak pelak lagi, al-Hallaj pun punya banyak sahabat dan musuh di dalam maupun di luar istana khalifah. Para pemimpin oposisi, yang kebanyakan adalah murid al-Hallaj, memandangnya sebagai Imam Mahdi atau juru selamat. Para pendukungnya di kalangan pemerintahan melindunginya sedemikian rupa sehingga ia bisa membantu mengadakan pembaruan sosial.
Pada akhirnya, keberpihakan al-Hallaj berikut pandangan-pandangannya tentang agama, menyebabkan dirinya berada dalam posisi berseberangan dengan kelas penguasa. Pada 918M, ia diawasi, dan pada 923M ia ditangkap.
Al-Hallaj dipenjara selama hampir sembilan tahun. Selama itu ia terjebak dalam baku sengketa antara segenap sahabat dan musuhnya. Serangkaian pemberontakan dan kudeta pun meletus di Baghdad. Ia dan sahabat-sahabatnya disalahkan dan dituduh sebagai penghasut. Berbagai peristiwa ini menimbulkan pergulatan kekuasaan yang keras di kalangan istana khalifah. Akhirnya, wazir khalifah, musuh bebuyutan al-Hallaj berada di atas angin, sebagai unjuk kekuasaan atas musuh-musuhnya ia menjatuhkan hukuman mati atas al-Hallaj dan memerintahkan agar ia dieksekusi.
Akhirnya, al-Hallaj disiksa di hadapan orang banyak dan dihukum di atas tiang gantungan dengan kaki dan tangannya terpotong. Kepalanya dipenggal sehari kemudian dan sang wazir sendiri hadir dalam peristiwa itu. Sesudah kepalanya terpenggal, tubuhnya disiram minyak dan dibakar. Debunya kemudian dibawa ke menara di tepi sungai Tigris dan diterpa angin serta hanyut di sungai itu.

Selasa, 09 Agustus 2011

Alexander Graham Bell, Penemu Telepon

-Penemu Telepon

Saat ini komunikasi antar manusia makin mudah karena udah ada fasilitas telepon yang sangat membantu dalam kehidupan sehari-hari. Lalu siapa tokoh yang paling berjasa dibalik penemuan telepon? Dia adalah Alexander Graham Bell yang pertama kali menemukan alat komunikasi ini.

Bell lahir pada tanggal 3 Maret 1847 di Edinburg, Scotland. Bell berasal dari keluarga yang sangat mementingkan pendidikan. Ayahnya adalah seorang psikolog dan elocution bernama Alexander Melville Bell, sedangkan kakeknya Alexander Bell merupakan seorang elucution professor.

Setelah menyelesaikan kuliahnya di University of Edinburg dan University College di London, Bell memutuskan buat menjadi asisten ayahnya. Dia membantu orang-orang yang cacat pendengaran untuk belajar berbicara dengan metode yang telah diterapkan oleh ayahnya, yaitu dengan memperhatikan posisi bibir dan lidah lawan bicara.

Pada saat dia bermukim di London, Bell sempat belajar tentang percobaan yang dilakukan oleh Herman Ludwig von Helmholtz berupa tuning fork dan magnet yang bisa menghasilkan bunyi yang terdengar nyaring. Kemudian baru pada tahun 1865 Bell mempelajari lebih mendalam tentang suara yang keluar dari mulut saat berbicara.

Bell semakin tertarik dengan segala sesuatu yang berhubungan dengan bunyi-bunyian, makanya dia nggak keberatan ketika harus mengajar di Sarah Fuller, Boston yang merupakan sekolah khusus orang-orang tuli pada tahun 1870, selain itu Bell juga bekerja sebagai guru privat. Dan ketika dirinya diangkat menjadi guru besar psikologi di Boston University pada tahun 1873, Bell mengadakan suatu pertemuan khusus buat para guru yang menangani masalah murid-murid yang mengalami cacat pendengaran.

Hampir seluruh hidupnya Bell menghabiskan waktunya untuk mengurusi masalah pendidikan orang-orang yang cacat pendengaran bahkan kemudian dirinya mendirikan American Association to Promote the Theahing of Speech to the Deaf.

Bell mulai melakukan penelitian dengan menggunakan phonatograph, multiple telegraph dan electric speaking telegraph dari tahun 1873 sampai 1976 yang dibiayai oleh dua orang ayah dari muridnya. Salah satu penyandang dananya adalah Gardiner Hubbard yang mempunyai seorang putri yang telinganya tuli bernama Mabel, wanita inilah yang dikemudian hari menjadi istri Bell.


Di kemudian hari Bell mengungkapkan keinginannya untuk menciptakan suatu alat komunikasi dengan transmisi gelombang listrik. Bell pun mengajak temannya Thomas Watson buat membantu menyediakan perlengkapannya. Penelitiannya dilakukan dengan menggunakan alat pengatur suara dan magnet untuk menghantarkan bunyi yang akan dikirimkan, peristiwa ini terjadi pada tanggal 2 Juni 1875.

Akhirnya terciptalah karya Bell sebuah pesawat penerima telepon dan pemancar yang bentuknya berupa sebuah piringan hitam tipis yang dipasang di depan electromagnet. Baru pada tanggal 14 Februari 1876 Bell mematenkan hasil penemuannya, tapi oleh US Patent Office penemuan Bell ini baru resmi dipatenkan pada tanggal 7 Maret untuk “electric speaking telephone”.

Bell terus memperbarui penemuannya dan untuk pertama kalinya dia berhasil mengirimkan suatu kalimat berbunyi “Watson, come here, I want you” pada tanggal 10 Maret 1876.

Kata Baku dan tidak Baku

BAKU – TIDAK BAKU
aktif - aktip
aktivitas - aktifitas
apotek - apotik
atlet - atlit
Anda – anda
andal – handal
analisis - analisa

diagnosis - diagnosa
andal - handal
antre - antri
asas - azas

cendekiawan - cendikiawan
detail - detil
embus - hembus
ekstrem - ekstrim
ekstremis - ekstrimis
Februari - Pebruari

frekuensi - frekwensi
fondasi - pondasi;
hierarki - hirarki
hakikat - hakekat
hafal - hapal

ijazah - ijasah
izin - ijin
imbau - himbau
isap – hisap
jenazah - jenasah
justru - justeru
karier - karir

kategori - katagori
konferensi - konperensi
kualifikasi – kwalifikasi
kualitatif - kwalitatif
kuantitatif - kwantitatif
kualitas – kwalitas

masjid - mesjid
merek - merk
meterai - meterei
miliar - milyar

misi - missi
mulia - mulya
museum - musium
metode - metoda
mungkir - pungkir
narasumber - nara sumber

nasihat - nasehat
objek - obyek
objektif - obyektif
peduli - perduli

praktik - praktek
provinsi - propinsi
risiko - resiko
sekadar - sekedar
silakan - silahkan
sistem - sistim

saksama - seksama
subjek – subyek
subjektif - subyektif
teknik - tehnik
teknologi - tehnologi
terampil - trampil

telanjur - terlanjur
telantar - terlantar
ubah - rubah
mengubah - merubah
utang - hutang



pengertian uang dan jenis-jenisnya

Uang merupakan alat tukar dan alat pembayaran yang sah. pada masa-masa sebelumnya, pembayaran dilakukan dengan cara barter, yaitu barang ditukar dengan barang secara langsung.

Sejarah Uang

Pada jaman dahulu, jual beli dilakukan dengan sistem barter. Barter adalah perdagangan yang dilakukan dengan cara tukar menukar barang, setelah barter orang mulai menggunakan alat pembayaran yang disepakati.

Sebelum menggunakan uang, orang menggunakan barang yang tertentu sebagai alat pembayaran, misalnya kulit kerang, mutiara, batu permata, tembaga, emas, perak , manik-manik, dan gigi binatang.

Pada zaman modern uang digunakan sebagai alat pembayaran. dengan menggunakan uang, manusia berusaha memenuhi kebutuhannya.

Jenis-Jenis Uang

Jenis-Jenis uang di bagi menjadi dua yaitu:

Uang kartal
Uang kartal adalah uang yang digunakan sebagai alat pembayaran dalam kehidupan sehari-hari. Uang kartal berupa uang logam dan uang kertas, mata uang negara kita adalah Rupiah, uang pertama yang dibuat oleh Indonesia adalah Oeang Republik Indonesia.

Lembaga yang bertugas dan mengawasi peredaran uang rupiah adalah Bank Indonesia, sedangkan perusahaan yang mencetak uang rupiah adalah Perum Peruri (Percetakan Uang Republik Indonesia).

Uang Giral
Uang giral adalah surat berharga yang dapat diuangkan di bank atau dikantor pos. Contoh uang giral, cek, giro pos, wesel dan surat berharga.Uang giral biasanya digunakan untuk transaksi dengan nilai uang yang sangat besar.

Kegunaan uang ialah Uang dapat digunakan sebagai alat pembayaran, alat penukar, alat penentu harga, dan dapat pula di tabung.

Dibawah ini adalah daftar mata uang di dunia yang berlaku saat ini, diantaranya sebagai berikut :

Abbesinia : Dollar Afghanistan : Afgani
Afrika Selatan : Rand Afrika Tengah : Franc
Albania : Lek Aliazair : Dinar
Amerika Serikat : Dollar Angola : Kwanza
Argentina : Peso Australia : Dollar
Austria : Shilling Bangladesh : Taha
Belanda : Gulden Belgia : Franc
Bolivia : Boliviarnus Brazil : Cruzeiro
Brunei Darussalam : Dollar Bulgaria : Lev
Canada : Dollar Cekoslovakia : Koruna
Ceylon : Rupee Chad : Franc
Chili : Peso Cina : Yuan
Denmark : Krone Dominika : Peso
EI Salvador : Kolon Emirat Arab : Dirham

Sabtu, 30 Juli 2011

PERANG JAMAL

PERANG JAMAL


Perang Jamal telah terjadi antara kholifah Ali bin Abi Tholib kw dan pengikutnya disatu pihak dengan Ummul Mukminin Aisyah, Tolhah dan Zubair Rodhiallohu Anhum serta pengikutnya dipihak lain.
Perang ini terjadi pada pertengahan bulan Jumadil Akhir tahun tiga puluh enam Hijriyah. Pertempuran ini berjalan dari siang hari sampai sorenya, dan menelan korban sepuluh ribu Muslimin, bahkan dalam riwayat yang lain tiga belas ribu orang.

Adapun kronologi sampai terjadinya pertempuran tersebut sebagai berikut:
Setelah Tolhah ra dan Zubair ra membaiat Sayyidina Ali kw sebagai Kholifah, yang berkedudukan di Madinah, maka keduanya meminta ijin dari Kholifah untuk melaksanakan ibadah Umroh.
Kemudian ketika mereka berada di Mekah, keduanya menemui Ummul Mukminin Aisyah ra, yang saat itu sedang berada di Mekah setelah selesai melaksanakan ibadah Haji.
Dalam pertemuan itu mereka bersepakat untuk meminta kepada Sayyidina Ali kw agar secepatnya mengambil Gishos terhadap pembunuh pembunuh Kholifah Usman Ibnu Affan ra.
Selang beberapa hari kemudian, mereka bertiga dan pengikut pengikutnya berangkat menuju kota Basrah.
Kholifah Ali bin Abi Tholib kw begitu mendengar keberangkatan serta tujuan mereka segera memutuskan untuk berangkat ke Kufah. Namun sebelumnya, beliau terlebih dahulu mengirin sahabat sahabatnya termasuk Sayyidina Hasan putranya dan Ammar bin Yasir, guna menggalang kekuatan dan dukungan bagi Kholifah.
Selanjutnya setelah beberapa hari, beliau baru menyusul menuju Kufah bersama pengikut pengikutnya.
Kedatangan Kholifah Ali kw dan rombongannya di Kufah juga didengar oleh Siti Aisyah ra, Tolhah ra dan Zubair ra.

Selanjutnya kedua belah pihak saling mengirim surat dan utusan untuk mengadakan perundingan dan membicarakan langkah apa yang harus ditempuh oleh kedua belah pihak. Dan akhirnya mereka sepakat dan setuju untuk mengadakan Ishlah.
Untuk itu Kholifah Ali kw menunjuk Sahabat Al Go’gok Attamimi sebagai utusan mewakili Kholifah Ali kw, dalam berunding dengan Siti Aisyah ra, Tolhah ra dan Zubair ra.
Pada awalnya mereka berkata, bahwa mereka datang untuk Ishlah dan untuk meminta agar orang orang yang terlibat dalam pembunuhan terhadap Kholifah Usman ra diadili atau dilakukan Gishos terhadap mereka. Sebab mereka ( Siti Aisyah ra cs) berkeyakinan, apabila tidak dilaksanakan Gishos, berarti mereka telah meninggalkan Nas yang tertera dalam Al Qur’an.
Kemudian Al Go’gok menjawab, bahwa semua yang mereka kehendaki tersebut bisa dilaksanakan, apabila suasananya sudah aman dan tenang. Karenanya agar semua kebaikan yang mereka kehendaki tercapai dan terlaksana, maka mereka harus membuat suasana menjadi baik, yaitu dengan langkah mereka membaiat Imam Ali kw sebagai Kholifah. Tapi apabila usulnya tersebut mereka tolak dan justru membesar besarkan masalah tersebut, maka keadaan akan semakin keruh dan tidak terkendali yang akibatnya justru menjauhkan apa apa yang mereka kehendaki.
Rupanya jawaban Al Go’gok tersebut membuat Siti Aisyah ra, Tolhah ra dan Zubair ra merasa senang dan puas dan mereka setuju untuk dilaksanakan. Kemudian mereka berkata; Kembalilah ke Ali dan sampaikan apa yang kamu sarankan. Apabila dia juga menerima saranmu tersebut, maka Ishlah ini akan terlaksana.
Selanjutnya ketika saran Al Go’gok tersebut disampaikan kepada Kholifah Ali kw, beliau setuju
Demikian hasil pertemuan antara fihak Kholifah Ali kw dengan fihak Siti Aisyah ra dan berita perdamaian tersebut disambut gembira oleh penduduk Kufah dan Basrah. Sehingga malamnya membuat penduduk kedua kota bisa tidur tenang.

Namun bagi orang orang yang terlibat dalam pembunuhan terhadap Kholifah Usman ra, berita perdamaian tersebut sangat tidak menyenangkan bagi mereka. Sebab apabila perdamaian sampai terlaksana, maka lambat laun mereka pasti akan dikejar kejar dan diadili. Karenanya mereka sekuat tenaga berusaha menggagalkan perdamaian tersebut.
Berbagai usaha mereka lakukan dalam usaha mereka mengeruhkan keadaan, diantaranya pada malam hari disaat kelompok Siti Aisyah ra sedang tidur nyenyak, mereka menyusup ketempat kelompok Siti Aisyah ra, bahkan sengaja meninggalkan senjata. Dengan tujuan agar fihak Siti Aisyah ra mengira ada musuh yang masuk menyelinap dimalam hari. Bahkan ada yang meriwayatkan ada beberapa kemah yang dibakar.
Hal ini tentu saja membuat fihak Siti Aisyah ra curiga dan marah. Dan itulah yang membuat kesalah pahaman antara kedua belah fihak, sehingga keadaan tidak bisa terkendali dan terjadilah peperangan.
Peperangan ini dikenal dengan perang Jamal, karena saat pertempuran, Siti Aisyah ra memimpin peperangan dengan mengendarai unta atau Jamal.

Dalam peperangan ini Kholifah Ali kw berpesan kepada pengikutnya agar jangan sampai melukai Siti Aisyah ra dan beliau berkata bahwa Aisyah adalah istri Rosululloh di dunia dan akhirat.
Namun melihat pertempuran terus berjalan, sedang korban dari kedua belah pihak terus berjatuhan, maka Kholifah Ali kw memerintahkan agar unta yang dinaiki Siti Aisyah ra dihantam kakinya sampai roboh.
Ternyata strategi Imam Ali kw ini berhasil, sebab begitu unta yang dinaiki Siti Aisyah ra roboh, pengikutnya yang selalu mendampinginya berlarian ketakutan.
Akhirnya peperangan ini dimenangkan oleh kelompok kholifah Ali kw. Terbunuh dalam pertempuran ini Sayyidina Tolhah ra, sedang Sayyidina Zubair ra tidak ikut berperang, dia meninggalkan rombongannya dikarenakan dia teringat akan sabda Rosululloh SAW yang ditujukan kepadanya, bahwa dia (Zubair) akan berselisih dengan Ali, sedang dia difihak yang salah. Karenanya beliau segera meninggalkan medan pertempuran, menuju Wadi Suba’ kira kira lima mil dari Basrah.
Namun ternyata beliau diikuti oleh Amer bin Jurmuz dan disaat akan sholat beliau ditikam sampai meninggal.
Setelah membunuh Sayyidina Zubair ra, Ibnu Jurmuz mengambil kudanya serta senjata dan cincinnya, kemudian dia memberitahu teman temannya akan kejadian tersebut.
Disaat kholifah Ali kw mendengar berita tersebut beliau segera berkata; Saksikanlah bahwa aku pernah mendengar Rosululloh SAW bersabda: Pembunuh Zubeir di Neraka.
(Kanzul Ummal)

Adapun Siti Aisyah ra yang tertawan saat itu, Kholifah Ali kw memperlakukannya dengan sangat hormat dan baik.
Kemudian Kholifah Ali kw memerintahkan Muhamad bin Abubakar Assiddiq ( saudara seayah dengan Siti Aisyah ra) untuk menemui dan melihat keadaan Siti Aisyah ra.

Selanjutnya Kholifah Ali kw memeriksa orang orang yang terbunuh serta memerintahkan agar semuanya dimakamkan. Dan setelah dikumpulkan, Kholifah Ali kw mensholati semua orang yang terbunuh dalam pertempuran tersebut, baik dari fihaknya maupun dari fihak Siti Aisyah ra.
Hal ini membuktikan bahwa semuanya adalah Muslimin, dan andaikata orang orang yang memerangi Imam Ali kw dianggap keluar dari Islam, sebagaimana golongan Syi’ah menghukum mereka, niscaya Kholifah Ali kw tidak mau mensholati mereka.

Kemudian Kholifah Ali kw menghampiri Siti Aisyah ra seraya berkata :
Bagaimana keadaanmu Ya Ummah ?.
Siti Aisyah ra Menjawab: Baik.
Kemudian Kholifah Ali kw berkata;
Semoga Alloh Mengampunimu.
Siti Aisyah ra menjawab: Begitu pula kamu.

Selanjutnya begitu Kholifah Ali kw memasuki kota Basrah, semua pengikut Siti Aisyah ra dan semua penduduk kota Basrah membaiat Kholifah Ali bin Abi Tholib kw.

Selang berapa hari Kholifah Ali kw mempersiapkan pemberangkatan Siti Aisyah ra ke Mekah. Sebab Siti Aisyah ra berkeinginan untuk melaksanakan ibadah Haji. Namun dalam riwayat yang lain diceritakan bahwa Siti Aisyah akan kembali ke Madinah.
Semua orang yang datang bersama Siti Aisyah ra dari Mekah (pengikut Siti Aisyah) jika mau kembali ke Mekah dipersilahkan, dan yang akan menetap di Basrah dan Kufah juga diperbolehkan.

Kemudian Kholifah Ali kw memerintahkan Muhahamad bin Abubakar untuk mengawal saudaranya, serta memerintahkan empat puluh wanita dari kota Basrah untuk mendampingi Siti Aisyah ra dalam perjalanannya menuju Mekah.
Pada waktu rombongan akan meninggalkan kota Basrah Kholifah Ali kw dan beberapa orang ikut melepas mereka. Dan saat itu Ummul Mukminin Aisyah ra berkata; “Wahai anakku janganlah diantara kita saling menyalahkan”.
Kemudian Kholifah Ali ra berkata; Sesungguhnya beliau adalah istri Rosululloh didunia dan di akhirat.

Demikian telah kami sampaikan secara ringkas peristiwa Perang Jamal, yang terjadi antara Kholifah Ali bin Abi Tholib kw dan pengikutnya disatu fihak dengan Ummul Mukminin Aisyah, Tolhah dan Zubeir Rodhiallohu Anhum dan pengikutnya.

perang Shiffin

Perang Shiffin (Arab وقعة صفين ) (Mei-Juli 657 Masehi) terjadi semasa zaman fitnah besar atau perang saudara pertama orang Islam dengan pertempuran utama terjadi dari tanggal 26-28 Juli. Pertempuran ini terjadi di antara dua kubu yaitu, Muawiyah bin Abu Sufyan dan Ali bin Abi Talib di tebing Sungai Furat yang kini terletak di Syria (Syam).
1 Shafar tahun 37 Hijriah, Perang Shiffin meletus. Perang ini terjadi antara pasukan Imam Ali melawan pasukan Muawiyah bin Abi Sufyan. Setelah wafatnya Khalifah Utsman bin Affan, rakyat Madinah membaiat Imam Ali dan mengangkat beliau sebagai khalifah. Namun, Muawiyah, seorang Gubernur di Damaskus, menolak menerima kepemimpinan Imam Ali dan melakukan perlawanan bersenjata. Awalnya, Imam Ali berusaha melakukan perundingan demi mencegah pertumpahan darah di antara sesama muslim. Namun, Muawiyah tetap membangkang dan pecahlah perang di sebuah daerah bernama Shiffin di tepi sungai Furat, Irak. Ketika pasukan Imam Ali hampir mencapai kemenangan, penasehat Muawiyah bernama Amru bin Ash memerintahkan pasukannya agar menancapkan Al-Quran di tombak mereka dan menyerukan gencatan senjata atas nama Al-Quran. Imam Ali yang memahami tipuan ini memerintahkan pasukannya agar terus bertempur, namun sebagian kelompok menolak. Kelompok ini kemudian dikenal sebagai kelompok Khawarij. Atas desakan kelompok Khawarij pula, perang dihentikan dan diadakan perundingan antara kedua pihak. Dalam perundingan ini, delegasi Muawiyah melakukan tipuan. Akibatnya, kekhalifahan kaum muslimin direbut dari tangan Imam Ali dan jatuh ke tangan Muawiyah
Perang ini terjadi setelah Muhammad meninggal dan Ali bin Abi Thalib menjabat kekhalifahan dan memaksa Abu Sufyan untuk mengakui kekhalifahannya, dan perang ini terjadi di bukit Shiffin. Ali bin Abi Thalib berhadapan dengan Amru bin Ash dan Ali berhasil menjatuhkan dan melemparkan pedang Amru bin Ash, namun Amru yang menyadari kekalahan dan kematiannya, Amru dengan nekad membuka celananya, sehingga Ali yang akan menghujamkan pedang kearah Amar dan melihat perbuatan Amru, Ali bin Abi Thalib segera memalingkan wajahnya dan meninggalkan Amru yang telanjang. Sehingga Amru dengan perbuatan memalukannya itu selamat dari tebasan pedang Ali dan Zulfiqar dan juga selamat dari kematian.
Dalam sejarah kehidupan manusia-manusia besar tidak ada yang mampu menyamai sifat kesatriaan Ali bin Abi Thalib, yang menjunjung tinggi nilai-nilai kesusilaan walaupun dalam medan pertempuran dan ia adalah manusia yang tidak pernah mengambil keuntungan dari kelemahan lawannya walaupun hal itu bisa membawanya dalam kemenangan dan Ali bin Abi Thalib adalah manusia yang dalam medan perang tidak pernah menempatkan ego atau hasratnya untuk membunuh lawannya, namun dikarenakan Allah dan nabinya ia mempersembahkan ematian lawannya sebagai hujjah atau bukti pembangkangan lawannya terhadap ke-Esa-an Allah dan kenabian Muhammad.